Laki-laki dan Perempuan, Sederajatkah?

August 22, 2008

Permasalahan Peran Jender Yang Menimpangkan Kesederajatan

Kesederajatan laki-laki dan perempuan telah banyak dipertanyakan dan dipermasalahkan sejak lama disebabkan kaum perempuan di banyak belahan bumi ini merasa tidak sederajat dengan kaum laki-laki. Ketidaksederajatan ini telah menimbulkan berbagai bentuk diskriminasi sehingga menimbulkan kerugian pada kaum perempuan di dalam segala aspek kehidupan. Akibatnya timbullah berbagai faham dan gerakan di seluruh dunia yang telah kita dengar seperti women’s liberation, feminisme, emansipasi wanita, women in development, pemberdayaan perempuan dan yang terakhir: kesetaraan jender. Semua ini adalah upaya agar kesetaraan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dapat diperoleh untuk menjamin keadilan serta keselarasan hidup di antara keduanya.

Sayangnya upaya ke arah kesetaraan dan keadilan ini masih menemukan banyak kendala di berbagai tempat di dunia ini. Faktor-faktor yang dianggap sebagai penghambat diantaranya adalah pendidikan yang rendah, kebudayaan, adat istiadat, kehidupan sosial, bahkan pemahaman perintah agama yang keliru.

Diskriminasi terhadap perempuan

Sebagai akibat dari faktor-faktor penghambat di atas, banyak perempuan menghadapi berbagai bentuk penindasan yang utamanya telah menimbulkan kemiskinan di kalangan mereka. Fakta-fakta yang tercatat dalam Human Development Report UNDP 2001/2002 antara lain:

  • Di seluruh dunia, diperkirakan dari 1.3 miliar penduduk miskin, 70% nya adalah perempuan.
  • Di seluruh dunia, 50% lebih banyak perempuan yang tidak bisa membaca dari pada laki-laki.
  • Lebih banyak perempuan yang menderita gizi buruk daripada laki-laki.
  • Gaji perempuan biasanya 30-40% lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki dalam posisi pekerjaan yang sama.
  • Di negara-negara berkembang perempuan hanya menduduki kurang dari sepertujuh posisi administrator dan manager. Perempuan hanya menduduki 10% kursi kabinet nasional dunia.
  • Perempuan tidak mendapat akses yang sama dengan laki-laki terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, hasil bumi/laut, pekerjaan, dan lain-lain.

Dalam kehidupan sosial, nilai-nilai sosial budaya dan tingkat sosial biasanya menentukan peran, tanggung jawab dan fungsi pengambilan keputusan oleh laki-laki yang mengakibatkan perempuan tidak dilibatkan dalam pengambil keputusan. Kekeliruan penafsiran terhadap ajaran agama juga seringkali membatasi perempuan dalam melakukan mobilitas, hubungan sosial, akses terhadap sumber daya, dan berbagai kegiatan lainnya yang ingin dilakukan perempuan.

Jelaslah bahwa perempuan lebih banyak mengalami perlakuan tidak adil karena jenis kelaminnya (seks) dan perannya (jender). Semua ini diakibatkan adanya pandangan masyarakat yang keliru mengenai peran laki-laki dan perempuan dan adanya pemaksaan mengenai peran apa yang harus dilakukan oleh perempuan. Singkatnya ada kesenjangan peran fungsi, hak dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat.

Mengenai Seks dan Jender

Seks sering dianggap banyak orang sebagai bahan pembicaraan bagi orang dewasa. Menurut kamus, seks itu berarti jenis kelamin. Sebenarnya seks berkonsentrasi kepada alat reproduksi yang yang diberikan Tuhan sejak lahir kepada manusia yang terdiri atas jenis kelamin laki-laki dan perempuan, tidak bisa dipertukarkan antara keduanya dan ia melekat hingga selamanya. Ini disebut kodrat. Laki-laki mempunyai penis dan testis serta dapat membuahi, sedangkan perempuan memiliki vagina dan rahim serta dapat melahirkan dan menyusui anak. Ini adalah hal yang bersifat biologis dan berlaku kapan saja, dimana saja dan kepada suku bangsa/etnis apa saja.

Jender seringkali diartikan sama dengan seks, lebih-lebih diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan perempuan, jadi istilah ini belum dipahami secara benar. Jender adalah mengenai pembagian peran sosial yang harus dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang ditentukan oleh nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat. Singkatnya, jender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang diciptakan oleh masyarakat.

Masyarakatlah yang membentuk nilai-nilai dan aturan tentang bagaimana anak laki-laki dan anak perempuan serta laki-laki dewasa dan perempuan dewasa harus berperilaku, berpakaian, bekerja dan seterusnya dimana aturan tersebut seringkali berubah seiring dengan perkembangan budaya masyarakat. Sebagai contoh, sedari kecil kita sudah diajarkan bahwa perempuan harus pintar masak karena perempuan tempatnya di dapur, sedangkan laki-laki tidak boleh cengeng karena laki-laki harus jadi pemimpin. Mengapa begitu? Karena proses pembelajaran yang panjang sejak kecil hingga dewasa membuat masyarakat menganggap hal tersebut telah ditetapkan sebagai kodrat laki-laki dan perempuan, padahal peran tersebut bisa dilakukan kedua belah pihak. Singkatnya peran jender ini adalah buatan manusia, tidak berlaku sama di semua tempat, dapat berubah dan bukan merupakan kodrat karena kita tidak memilikinya sejak lahir (non biologis).

Peran sosial antara laki-laki dan perempuan banyak sekali dipengaruhi oleh cara pandang masyarakat terhadap fisik, sifat dan kelakuan suatu jenis kelamin. Ini disebut pandangan baku. Misalnya saja, orang biasa menganggap bahwa laki-laki itu kuat, kasar dan rasional. Sedangkan perempuan itu lemah, halus/lembut, keibuan dan emosional. Akibatnya peran dan pekerjaan yang diciptakan untuk mereka juga berbeda yaitu laki-laki bekerja keras dan mencari nafkah di luar rumah sedang perempuan melakukan pekerjaan yang dianggap lebih ringan misalnya memasak, merawat anak dan mengurus rumah tangga. Sedangkan pada kenyataannya banyak perempuan yang kuat dan rasional sehingga bisa juga mencari nafkah dan bekerja sebaik laki-laki bahkan menjadi pemimpin negara seperti presiden atau perdana menteri. Sementara ada juga laki-laki yang halus dan emosional dan laki-laki dapat pula mengerjakan tugas-tugas rumah tangga seperti halnya perempuan, contohnya banyak laki-laki menjadi koki handal di hotel-hotel bertaraf internasional. Jadi apabila tidak ada alasan biologis mengapa suatu jenis kelamin mengerjakan suatu pekerjaan atau peran tertentu maka pastilah hal itu berasal dari cara pandang jender dan itu bisa dirubah.

Pembagian Peran Jender

Sudah sewajarnya laki-laki dan perempuan berbagi peran dan tanggung jawab tetapi akan lebih bermanfaat jika tugas dan tanggung jawab diantara mereka dibagi secara berimbang dan berasaskan kesetaraan jender. Yang ingin dicapai dalam kesetaraan jender adalah hasil yang adil yang dapat dinikmati baik oleh laki-laki maupun perempuan. .

Seperti kita ketahui, ada tiga peran utama yang ada di masyarakat beserta realitasnya sbb:

Peran produktif - berhubungan dengan pekerjaan yang menghasilkan uang seperti bertani, berdagang, bekerja di pabrik, membuka warung dll yang bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Pada kenyataannya, perempuan sering menerima upah jauh lebih rendah dibanding laki-laki untuk pekerjaan yang sama beratnya.

Peran reproduktif - berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, menyetrika, membereskan rumah dll. Pekerjaan ini kebanyakan dilakukan oleh perempuan termasuk di dalamnya melahirkan, merawat dan mendidik anak serta mensejahterakan keluarga. Pekerjaan ini tidak menghasilkan uang sehingga tidak pernah dianggap sebagai suatu “pekerjaan” padahal mengerjakan semua ini memerlukan waktu sepanjang hari yang menguras tenaga dan harus dikerjakan setiap hari.

Peran sosial – berkaitan dengan keterlibatan di masyarakat misalnya menghadiri rapat kegiatan keagamaan, budaya, pemeliharaan lingkungan dll. Pekerjaan ini dapat melibatkan baik laki-laki maupun perempuan. Namun biasanya laki-laki lebih dominan di dalam peran ini dan keputusan biasanya dibuat oleh laki-laki sehingga suara perempuan sering tidak terwakili.

Bagaimanapun, jika memperhatikan siapa yang mengerjakan apa, kita akan menemukan bahwa perempuan selalu kebagian lebih banyak tugas daripada laki-laki, namun pekerjaan perempuan sering tidak dihargai. Mengapa peran jender di atas dipermasalahkan? Karena cara pandang jender yang salah telah menjadi sumber ketidaksetaraan dan ketidaksederajatan antara laki-laki dan perempuan.

Apa yang dapat kita lakukan?

Sebaiknya kita memahami cara pandang jender yang benar untuk memastikan agar berbagai tugas kehidupan dapat dipikul oleh laki-laki dan perempuan atas kesepakatan bersama berasaskan keadilan dan kesetaraan. Sebagai pelajar kita dapat mempraktekkan hal-hal yang sensitif jender di lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga kita.

Beberapa hal yang dapat dilakukan di lingkungan sekolah adalah sbb:

  • Menjamin agar pemilihan Ketua Kelas, Ketua OSIS atau posisi-posisi penting lainnya di dalam struktur organisasi siswa di sekolah dapat terbuka bagi siswa putra maupun putri.
  • Menjamin agar suara siswa putra maupun putri selalu terwakili dalam segala kegiatan dan pengambilan keputusan di dalam struktur organisasi siswa.
  • Menjamin agar setiap jenis olah raga maupun keterampilan yang diajarkan di sekolah dapat diikuti baik oleh siswa putra maupun putri.
  • Menjamin agar syarat untuk menjadi anggota Paskibra tidak ditentukan semata-mata berdasarkan tinggi badan karena pada umumnya secara fisik siswi putri tidak setinggi siswa putra. Ini untuk meyakinkan agar kesempatan menjadi anggota Paskibra dapat terbuka baik untuk putra maupun putri.

Beberapa contoh yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga adalah sbb:

  • Anak perempuan berhak mendapat kesempatan untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya seperti anak laki-laki.
  • Menghilangkan kebiasaan bahwa anak perempuan harus makan belakangan untuk menjamin agar anak laki-laki dan perempuan mendapat asupan gizi yang sama.
  • Pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju, menyapu, mengepel, memasak, mencuci sepeda/motor/mobil, memperbaiki peralatan, mengganti lampu dll bisa dilakukan oleh anak laki-laki maupun perempuan.
  • Anak laki-laki dan perempuan berhak mendapat kesempatan bermain yang sama dan tidak ada pembedaan jenis permainan. Sedari kecil anak laki-laki jangan dilarang untuk bermain rumah-rumahan atau masak-masakan, sementara anak perempuan juga diperbolehkan untuk bermain mobil-mobilan dan perang-perangan.

Untuk semua ini, biarlah alam yang akan mengatur dan menyeleksi apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan sesuai kemampuan masing-masing. Seperti kata pepatah think globally, act locally, sebagai pelajar marilah kita sebarluaskan betapa pentingnya pengetahuan mengenai jender agar lebih banyak masyarakat mendapat pemahaman yang baik. Upaya pemberantasan kesenjangan jender harus dimulai dari diri kita dan di dalam lingkungan keluarga kita. Laki-laki dan perempuan adalah ciptaan Tuhan dan berkedudukan sama di hadapan Tuhan. Memperoleh keadilan adalah merupakan hak asasi setiap orang yang dijamin oleh undang-undang. Oleh karenanya menjadi tugas kita semua untuk menjamin agar keadilan dapat dinikmati oleh laki-laki dan perempuan sebaik-baiknya.

(lomba menulis tentang Gender diselenggarakan oleh UNICEF)

Entry Filed under: My Writting. .

7 Comments Add your own

  • 1. ANDRE YURIS  |  August 23, 2008 at 4:43 pm

    Penetepan Kuota perempuan dalam pemilu legislatif 2009 bagi saya masih merupakan bentuk pelanggengan dominasi laki-laki dalam politik. cuman dibalut secra cantik dalam bentuk perundang undangan. bagi saya kuota itu tidak perlu di tetapkan dalam uu. tapi pelu keterlibatan yang sadar dari perempuan untuk maju dan berdimaika secara aktif dalam proses politik tanpa ada embel-embel lain.
    minta respon dan komentarnya,…………………..
    peace n respect to you.
    andre

    Reply
  • 2. huria ulfa  |  September 12, 2008 at 4:14 pm

    ya benar, dunia politik masih didominasi kaum laki laki.lalu bagaiman usaha perempuan sendiri dalam perjuangannya untuk merubah uu tsb atau mungkin sampai judicial review

    Reply
  • 3. dian  |  September 16, 2008 at 11:09 am

    seneng ya…. point of view Cita ttg mslh yg satu ini dah sedemikian perfectnya, emang mslh jender tuh ga ada ujungnya, sampe kapan jg tetep bkl jd topik menarik bt dibhs+diper”masalahkan”…, for exm, di kantor saya aja jender tuh jd salah satu tema yg dituangkan dalam salah satu program yang juga diminati byk pihak dalam kegiatan pelaksanaannya…mulai dari pengrajin gula merah sampe angggota dewan, mau terlibat dlm pengembangan prog. yang memang sangat tematik ini.

    Reply
  • 4. Tio  |  November 13, 2008 at 6:32 pm

    Makasi infonya..
    saia jd bisa bikin tugas…:D

    Reply
  • 5. nacita  |  November 27, 2008 at 2:39 pm

    @tio: sama2… seneng kok bisa bantu meskipun dikit… semoga tugasnya kelar n dapet note bagus ya….

    Reply
  • 6. Erlina  |  October 19, 2009 at 7:44 pm

    thank’z bgtz yow infox,, tugasqw jd cpt terselesaikhan dechh….

    Reply
  • 7. Getha  |  November 18, 2009 at 6:13 pm

    tnx y bwt infonya, gw jdi bsa bkin tugas gw thnx.. ^_^ :)

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

August 2008
M T W T F S S
« Mar   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Categories

Recent Posts

Recent Comments

Getha on Laki-laki dan Perempuan, …
Erlina on Laki-laki dan Perempuan, …
Phil on Kartini – Indonesia…
nacita on My Photos
nacita on Conserve Our Environment
wulan on Serunya Animasi Jepang
wulan on Serunya Animasi Jepang
luthfi on Serunya Animasi Jepang
Mik' on Conserve Our Environment
ricky on Serunya Animasi Jepang

Archives

Feeds